10 FAKTA ILMIAH BAHWA AL-QUR'AN NYATA KEBENARANNYA

Fakta Ilmiah Kebenaran Al-Qur'an


ALLAH TELAH MEMPERLIHATKAN TANDA-TANDA DISELURUH LANGIT, BUMI & BAHKAN DI DALAM TUBUH KITA SENDIRI, BAHWA QUR'AN ITU ADALAH BENAR !!! APA LAGI YANG KAU RAGU???

(QS.41 Fushshilat:53.) Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, HINGGA JELAS BAGI MEREKA BAHWA QUR'AN ITU ADALAH BENAR. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Fakta Ilmiah dalam Al-Qur'an telah terbukti kebenarannya yang banyak ditemukan oleh para ilmuwan. Setiap Rasul yang diutus Allah Ta'ala kepada manusia dibekali dengan keistimewaan-keistimewaan yang disebut mukjizat. Mukjizat ini bukanlah kesaktian ataupun tipu muslihat untuk memperdayai umat manusia, melainkan kelebihan yang Allah Ta'ala berikan untuk meneguhkan kedudukan para Rasulnya dan mempertegas seruan (dakwah) mereka agar manusia beriman kepada Allah Ta'ala dan tidak mempersekutukan-Nya (tauhid).

Namun mukjizat setiap nabi dan Rasul berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan karakter dan kondisi kaumnya yang menjadi objek dakwah. Lalu, apakah mukjizat Nabi Muhammad?

Para ulama sependapat, di antara sekian banyak mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw, yang terbesar adalah Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab suci penyempurna kitab-kitab suci para nabi sebelumnya. Al-Qur'an bukan hanya petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup bagi umat Muslim, tapi juga seluruh umat manusia.

Salah satu keajaiban Al-Qur'an, adalah terpelihara keasliannya dan tidak berubah sedikitpun sejak pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadan 14 abad yang lalu hingga kiamat nanti. Otentisitas Al-Qur'an sudah dijamin oleh Allah, seperti dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an , dan Sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.(QS Al-Hijr: 9)

Bukti otentisitas ini adalah banyaknya penghafal Al-Qur'an yang terus lahir ke dunia, dan pengkajian ilmiah terhadap ayat-ayatnya yang tak pernah berhenti. Kejaibannya, meski Al-Qur'an diturunkan 14 abad lalu, namun ayat-ayatnya banyak yang menjelaskan tentang masa depan dan bersifat ilmiah. Bahkan dengan kemajuan ilmu dan teknologi saat ini, banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang terbukti kebenarannya. Para ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran itu melalui sejumlah ekperimen penelitian ilmiah.

Berikut beberapa fakta ilmiah Al-Qur'an yang dihimpun dari berbagai sumber, di mana berbagai penemuan ilmiah saat ini ternyata sesuai dengan ayat-ayatnya.


Besi adalah salah satu logam berat yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Dalam Al-Qur'an surah Al Hadiid ayat 25 menjelaskan bahwa Allah menurunkan besi yang memiliki kekuatan hebat dan memiliki banyak manfaat bagi manusia.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami turunkan (anzalnaa) besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Dalam ayat ini, kata “anzalnaa” memiliki arti “kami turunkan” digunakan untuk menunjuk besi. Apabila diartikan secara kiasan kata “anzalnaa” menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia.

Apabila mengartikan kata itu secara harfiah, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, maka diperoleh arti bahwa besi diturunkan dari langit. Beberapa ilmuwan telah berhasil membuktikan kebenaran ayat itu. Partikel besi tidak berasal dari bumi melainkan berasal dari benda-benda luar angkasa.

Paling tidak, terdapat sembilan ayat dalam Alquran yang membahas dan menjelaskan tentang besi. Salah satunya, “Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).(QS An-Nahl: ayat 81)


Surat Yaasin ayat 36 menjelaskan, Allah menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasang. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.(QS Adz-Zaariyat: 49).

Menurut ayat ini, Allah menciptakan yang berpasangan tidak hanya manusia, melainkan segala sesuatu yang tumbuh dari bumi dan berbagai partikel yang tidak terlihat mata.

Seorang ilmuwan asal Inggris, Paul Dirac, berhasil melakukan penelitian yang membuktikan bahwa materi diciptakan secara berpasangan. Penemuannya dinamakan ‘Parite. Dia memperoleh Nobel di bidang fisika pada tahun 1933 karena penemuannya itu.


Matahari, planet, satelit dan benda langit lainnya bergerak dalam garis edarnya masing-masing. Al-Qur'an surah Al Anbiya ayat 33 dan surah Yaasin ayat 38 menjelaskan mengenai fakta ilmiah itu dan terbukti kebenaranya.

Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang alam semesta dan tata surya. Beberapa di antaranya seperti:

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.(QS Al Anbiya:33)

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(QS Yaa Siin: 38)

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.(QS Yaa Siin: 39)

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS Yaa Siin: 40)

Pengamatan astronomi telah membuktikan kebenaran fakta ini. Menurut ahli astronomi, matahari bergerak sangat cepat dengan kecepatan mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang dinamakan Solar Apex.

Selain matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Semua bintang yang ada di alam semesta juga berada dalam suatu gerakan serupa.


Dalam Al-Qur'an surah Az Zumar ayat 6 dijelaskan, manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan.

Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Perkembangan ilmu Biologi modern telah berhasil mengungkap petunjuk dari ayat itu. Pertumbuhan bayi di dalam rahim melewati tiga tahap (tiga kegelapan). Alquran menggunakan istilah ‘kegelapan’ karena memang proses penciptaan manusia dalam perut ibu terjadi di dalam rahim yang gelap. Tahap-tahap itu, pertama, tahap Pre-embrionik, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel kemudian menjadi segumpalan sel yang membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot, sel-sel penyusunnya mengatur diri mereka sendiri untuk membentuk tiga lapisan.

Kedua, tahap Embrionik yang berlangsung lima setengah minggu. Bayi pada tahap ini disebut “embrio”. Organ dan sistem tubuh bayi juga mulai terbentuk.

Ketiga tahap fetus yang dimulai sejak kehamilan bulan 8 hingga lahir. Pada tahap ini bayi telah menyerupai manusia dengan wajah, kedua tangan dan kakinya.


Hasil penemuan ilmu genetika abad 20 menjelaskan bahwa jenis kelamin seorang bayi ditentukan oleh air mani dari pria. Dalam air mani pria terdapat kromosom x yang berisi sifat-sifat kewanitaan dan kromosom y berisi sifat kelaki-lakian. Sedangkan dalam sel telur wanita hanya mengandung kromosom x yang mengandung sifat-sifat kewanitaan. Jenis kelamin seorang bayi tergantung pada sperma yang membuahi, apakah mengandung kromosom x atau y.

Al-Qur'an telah menjelaskan fakta itu dalam surah An Najm ayat 45-46, “Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.

Sebelum penemuan itu diperoleh, masyarakat menganggap bahwa penentu jenis kelamin berasal dari wanita.

6. Fakta tentang sidik jari manusia

Setiap manusia memiliki ciri sidik jari yang unik dan berbeda antara satu orang dengan lainnya. Keunikan sidik jari baru ditemukan pada abad 19. Sebelum penemuan itu, sidik jari hanya dianggap sebagai lengkungan biasa yang tidak memiliki arti.

Al-Qur'an surat Al Qiyaamah ayat 3-4 menjelaskan tentang kekuasaan Allah untuk menyatukan kembali tulang belulang orang yang telah meninggal, bahkan Allah juga mampu menyusun kembali ujung-ujung jarinya dengan sempurna.

QS Al Qiyamah ayat 3-4: “Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.


Air susu ibu atau ASI sangat bermanfaat bagi bayi. ASI adalah sumber makanan terbaik bagi bayi dan mengandung zat yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Tidak ada susu buatan manusia yang mampu menandingi kualitas ASI.

Al-Qur'an surat Luqman ayat 14 menganjurkan manusia untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Surat ini menjelaskan bahwa waktu yang terbaik untuk memberikan ASI bagi seorang bayi adalah 2 tahun karena memberikan banyak manfaat.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.


Albert Einstein pada awal abad 20 berhasil menemukan teori relativitas waktu. Teori ini menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Waktu dapat berubah sesuai dengan keadaannya. Beberapa ayat dalam Al-Qur'an juga telah megisyaratkan adanya relativitas waktu ini, di antaranya dalam Al-Qur'an surah Al Hajj ayat 47, surah As Sajdah ayat 5 dan Al-Qur'an surah Al Ma’aarij ayat 4.

Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.(QS Al Hajj: 47)

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.(QS As Sajdah:5)

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.(QS Al Ma’arij:4)

Beberapa ayat Al-Qur'an lainnya menjelaskan, manusia terkadang merasakan waktu secara berbeda, waktu yang singkat dapat terasa lama dan begitu juga sebaliknya.


Gunung tidak hanya memperindah pemandangan. Dikaji dari ilmu geologi, gunung berfungsi sebagai penyeimbang bumi dari goncangan. Gunung muncul karena tumbukan lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip ke bawah sedangkan lempengan yang lemah melipat ke atas membentuk dataran tinggi dan gunung.

Al-Qur'an menjelaskan fungsi gunung dalam beberapa ayat di antaranya dalam surat Al Anbiyaa ayat 21 dan surah An Naba’ ayat 6-7. Gunung diibaratkan sebuah paku yang menjadikan lembaran kayu tetap saling menyatu.

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.(QS Al Anbiya:31)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,(QS An Naba’: 6-7)


Manusia tidak mampu menyelam di laut dengan kedalaman di bawah 40 meter tanpa peralatan khusus. Dalam sebuah buku berjudul Oceans juga dijelaskan, pada kedalaman 200 meter hampir tidak dijumpai cahaya, sedangkan pada kedalaman 1000 meter tidak terdapat cahaya sama sekali.

Kondisi dasar laut yang gelap baru bisa diketahui setelah penemuan teknologi canggih. Namun Al-Qur'an telah menjelaskan keadaan dasar lautan semenjak ribuan tahun lalu sebelum teknologi itu ditemukan. Al-Qur'an surah An Nur ayat 40 menjelaskan mengenai fakta ilmiah ini.

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.(QS An Nuur: 40).

QS.41 Fushshilat:53. "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, HINGGA JELAS BAGI MEREKA BAHWA QUR'AN ITU ADALAH BENAR. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"

ALLAH TELAH MEMPERLIHATKAN TANDA-TANDA DISELURUH LANGIT, BUMI & BAHKAN DI DALAM TUBUH KITA SENDIRI, BAHWA AL-QUR'AN ITU ADALAH BENAR !!! APA LAGI YANG KAU RAGUKAN..??? (#IslamTerbuktiBenar)

Wallahu A’lam.

TERUSAN SUEZ ADALAH IDE UMAR BIN KHATTAB

TERUSAN SUEZ


Banyak yang belum tahu , bahwa ternyata Terusan Suez ternyata adalah sebuah karya agung berdasar ide dan gagasan cemerlang sekaligus membuktikan kejeniusan Amirul Mukminin Umar Bin Khaththab raddiyallahu’anhu. Ide jenius beliau menghubungkan Laut Merah dan Laut Putih Tengah karena adanya berbagai potensi domestik yang sudah dikenal pada zamannya. Juga kejeniusan beliau patut kita berbangga karenanya, adalah kemampuan beliau mewujudkan proyek tersebut dalam waktu relatif singkat sehingga terusan tersebut bisa dilalui oleh kapal-kapal. Di musim dingin tahun 641-642 M, Amru bin Ash ra. membuka terusan yang menghubungkan antara laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang, dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.

Al Qadha’i bercerita, Umar bin Khattab ra. menginstruksikan pada Amru bin Ash ra. pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath kemudian dialiri air sungai Nil hingga laut Qalzim.

Belum setahun, teluk inipun sudah bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Mekkah dan Madinah. Teluk ini juga dimanfaatkan penduduk dua tanah suci itu hingga disebut Teluk Amirul Mukminin.

Al Kindi bertutur bahwa teluk tersebut dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu 6 bulan. Kapal-kapal sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk hingga sampai di Hijaz bulan ke tujuhnya.

Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far Al Manshur , yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.

Sebagian sejarah juga menyebut, bahwa Amru bin Ash telah memikirkan untuk menghubungkan 2 laut putih dan Merah , namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzah, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Tapi rencana ini dibatalkan karena alasan pertimbangan militer yang ada pada zaman itu.

Pada masa Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini dibersihkan tiap tahun. Musim dingin, teluk ini biasanya ditutup karena dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. (biasanya bulan Agustus). Lumpur yang dikeruk lalu diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. dan ini sungguh menarik perhatian penduduk setempat.

PENYEBAB UTAMA YAHUDI INGIN KUASAI PALESTINA

YAHUDI INGIN KUASAI PALESTINA
Oleh: Hj. Irena Handono (Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center)

Kaum Yahudi di Israel terus menerus meneror warga Palestina. Apa yang membuat Yahudi berkeras ingin mengu-asai tanah Palestina secara keseluruhan walau fakta sejarah membuktikan bahwa tanah tersebut adalah milik Muslim?

Apa penyebab utama Yahudi ingin menguasai Palestina?


Hubungan antara Yahudi dan Yerusalem bisa dilihat di Bibel Perjanjian Lama. Menurut pandangan Yahudi, daerah yang paling suci adalah Mount Moriah (Gunung Moriah), yang kemudian dikenal dengan Temple Mount (Kuil Gunung). Area ini yang mereka klaim sekarang terletak di bawah bangunan milik Muslim, the Dome Of the Rock atau Kubbah As-Sakhra.

Dalam Perjanjian Lama (Taurat), Yerusalem mempunyai banyak nama, Salem (Shalem), Moriah, Jebuse (Yevuse), Jerusalem (Yerushalayim), and Zion (Tzi-yon). Dan terbanyak yang disebutkan dalam Perjanjian Lama adalah Yerushala-yim, yang disebutkan sebanyak 349 kali, sementara Tziyon disebutkan sebanyak 108 kali.

Menurut kepercayaan Kabbalah, suatu tradisi mistis Yahudi, batu dari Gunung Moriah yang kenal sebagai “Even Shtiyah”- the Drinking Stone (batu yang sedang minum), adalah pusat dari alam semesta, tempat di mana dunia terairi secara spiritual.

Kisah-kisah dalam Bibel yang ber-hubungan dengan Gunung Moriah sangat banyak, antara lain adalah: Ketika Ishak pergi ke sebuah lapangan ia bertemu Ribka untuk pertama kalinya (Kitab Kejadian 24:63-67), dia berdiri di gunung Moriah (Yerusalem). Mimpi Jakub naik ke surga melihat para malaikat turun tangga (Kejadian 28:10-22), juga terjadi di tempat ini, gunung Moriah (Yerusalem).


Keyakinan ini masih hidup, sangat dipercayai oleh orang Yahudi sekarang. Ini tampak dalam ritual-ritual mereka. Contoh: Ketika seorang Yahudi berdoa 3 kali sehari, mereka selalu menghadap Yerusalem. Jika sedang berada di Yerusalem, maka mereka berdoa menghadap Temple Mount. Yerusalem disebutkan berkali-kali dalam doa keseharian Yahudi dan dalam doa terima kasih setelah makan.

Orang Yahudi menutup Passover Seder, yakni acara makan dalam hari suci Yahudi, selalu dengan kalimat “Next Year in Jerusalem.” Satu kalimat yang mengung-kapkan cita-cita mereka untuk menduduki Yerusalem. Hari berduka cita/berkabung Yahudi, Tisha B’Av, memperingati perusakan Kuil yang pertama dan kedua.

Ketika dalam acara pernikahan Yahudi, pengantin memecahkan sebuah gelas sebagai tanda mengingat kedukaan terhadap perusakan kedua kuil yang berdiri di Gunung Moriah.


Dan orang Yahudi yang beriman selalu menyisakan tempat kecil pada dinding rumah mereka tanpa diplester tanpa dicat. Ini sebagai tanda kedukaan perusakan Kuil. Dalam keyakinan Yudaisme, yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa as, bangsa Yahudi yakin bahwa kelak seorang Messiah akan datang mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina.

Bagi zionis Yahudi, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pusat pemerintahan dunia (One World Order).

Ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah, yakni mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak. Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapatkan seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.

Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun. Masalahnya saat ini bukit Zaitun masih berada di tangan bangsa Palestina. Sebab itu, kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.


Para ahli arkeologi sepakat, ibukota Kanaan dan ibukota kerajaan Daud as berlokasi di tempat yang sekarang ini adalah kampung Arab, Silwan, beberapa kilometer sebelah selatan tembok ”baru” dari Kota Tua.

Kuil Sulaiman (Haikal Sulaiman) juga dikenal sebagai Beit HaMikdash (Kuil yang Suci). Pemilihan lokasi kuil ini dahulu dilakukan oleh Nabi Daud as yang saat itu beliau menunjuk puncak gunung Moriah (II Samuel 24:18-25). Kitab 1 Raja-raja 6-8 menggambarkan dengan detail bagaima-na anak Daud as, Raja Sulaiman, memba-ngun dan meresmikan Kuil. Walaupun hingga kini belum ada kejelasan pasti di mana lokasi Haikal Sulaiman berada, tapi sementara semua pakar arkeologi setuju bahwa bangunan itu berdiri di atas Gunung Moriah. Yahudi mengklaim di Al-Aqsa. Padahal tidak ada yang tahu pasti.

Itulah beberapa mitos yang dipegang kuat oleh Yahudi. Zionisme bukan sekadar gerakan ‘religion’, tapi sebuah gerakan makar besar untuk menguasai dunia dalam satu tatanan, The New World Order, Novus Ordo Seclorum. Sebuah sistem dunia yang menghamba pada Lucifer (setan).

Wallahu A’lam.

BIOGRAFI : SITI AISYAH WE TENRI OLLE SANG RATU CENDEKIA BARRU BAGIAN 2

SITI AISYAH WE TENRI OLLE


Sekolah Rakyat (volkschool) untuk semua kalangan
Dari pendalaman tentang sastra dan intensitas pergaulannya dengan BF Matthes dan Ida Pfeiffer, Tenri Olla kemudian memikirkan langkah strategis untuk memajukan bangsa Tanete melalui pendidikan. Akan tetapi, berbeda dengan BF Matthes yang mendirikan sekolah khusus untuk laki-laki, bangsawan, dan kaum kaya, We Tenri Olla justru mendirikan sekolah rakyat yang terbuka untuk semua kalangan pada 1890 atau 1908. Ia memberikan akses seluas-luasnya untuk masyarakat bawah agar dapat mengikuti pendidikan tanpa diskriminasi ekonomi, sosial, atau gender.

Model sekolah rakyat ini, atau yang juga dikenal sebagai sekolah desa (volkschool), merupakan inisiatif We Tenri Olla dan menjadi yang pertama di jazirah Sulawesi Selatan kala itu. Ia lahir dari ide kreatif Kerajaan Tanete tanpa bantuan dari pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Belakangan, model sekolah rakyat ini diadopsi oleh daerah lainnya di Sulawesi Selatan hingga ke Wajo, Bone, dan Makassar. Di Makassar, model sekolah ini disebut “Sekolah Melayu” sebagaimana dituliskan oleh FB Matthes dalam bukunya.

Karena keterbatasan publikasi, model sekolah yang dirintis oleh We Tenri Olla ini tidak banyak ditemukan deskripsinya dalam banyak literatur. Kemungkinan, mengingat cakupannya yang menyeluruh ke seluruh kalangan, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan berhitung. Dua mata ajaran standar yang dipakai untuk mengasah kemampuan dasar masyarakat Tanete kala itu.
Kala itu, ide sekolah rakyat untuk semua kalangan tanpa diskriminasi ini sungguh luar biasa dan melampaui zamannya. Bahkan jauh mendahului RA Kartini dan Dewi Sartika, dimana nama yang pertama dibuat lebih dikenal dalam kepeloporan pendidikannya di Indonesia.

Selanjutnya, setelah We Tenri Olle mundur dari singgasana Kerajaan Tanete pada 1910, praktis tidak ada kronik yang menceritakan keberlanjutan tahta Tanete di masa berikutnya. Hal ini mungkin dikarenakan Tanete lambat laun dimasukkan dalam daerah administratif Onder Afdelling Barru yang bernaung dibawah Afdelling Parepare. Onder Afdelling Barru yang kini menjadi Kabupaten Barru merupakan gabungan kerajaan-kerajaan kecil: Berru (Barru), Tanete, Soppeng Riaja dan Mallusetasi.

Perempuan Bugis
Dalam tradisi Bugis, sudah sejak lama peran perempuan memang tak hanya dijadikan simbol kejelitaan atau pengasuh rumah tangga bagi suami dan anak-anaknya. Perempuan Bugis merupakan pihak yang turut mendominasi pranata sosial-budaya dan politik di kerajaan-kerajaan Bugis, jauh sejak masa epos La Galigo mula dikisahkan.

Nenek moyang Bugis, yang disebut Tomanurung, dikisahkan tidak saja hanya seorang lelaki bernama Batara Guru, tetapi juga disandingkan dengan personifikasi perempuan jelita bernama We Nyilik Timo, permaisurinya. We Nyilik Timo juga dipercaya sangat berperan melahirkan gagasan-gagasan besar tentang pondasi bangunan kebudayaan Bugis awal.

Sejak lama, negara-negara Bugis dikenal sangat egaliter dan demokratis. Pada masa-masa awal pemerintahannya, pemilihan raja didasarkan pada kecakapan individual dan kolektif dengan mendudukkan faktor garis keturunan kebangsawanan di urutan ke sekian. 

Maccai na malempu, waraniwi na magetteng, demikian peribahasa masyarakat Bugis yang artinya adalah ‘cendekia lagi jujur, berani lagi teguh pendirian’. Bagi masyarakat Bugis, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cendekia, jujur, berani, dan teguh pada pendirian yang benar.

Sejumlah pemimpin pada kenyataannya memang muncul dari kalangan jelata. Sebut saja I Sangkilang di Gowa akhir abad 18, atau beberapa Arung Matoa Wajo yang dipilih dari pemimpin-pemimpin kampung. Ada pameo yang terpatri dalam benak orang Bugis bahwa pada dasarnya raja adalah rakyat jelata juga. Mereka naik ke tahta pimpinan hanya karena kualitas kemanusiaannya melebihi yang lain.

Egalitarianisme Bugis juga diterapkan dalam kesetaraan gender. Tidak saja dalam pranata sosial keseharian, kaum perempuan Bugis pun ditempatkan di tataran yang setara dengan kaum lelaki, bahkan dalam sistem politik. Kronik beberapa kerajaan Bugis semisal Luwu, Bone, Tanete, Soppeng, dan Wajo, beberapa kali mencatatkan raja dari kalangan perempuan. Perempuan Bugis yang menjadi raja di kerajaannya tidak saja hanya penghias silsilah saja (lontarak), tapi juga berkontribusi aktif untuk kemajuan rakyatnya.

Dalam buku “History Of Java” (1817), Thomas Stanford Raffles mencatat kesan kagum akan peran perempuan Bugis dalam masyarakatnya.

“The women are held in more esteem than could be expected from the state of civilization in general, and undergo none of those severe hardships, privations or labours that restrict fecundity in other parts of the world” (Raffles, History Of Java, Appendix F, “Celebes”: halaman lxxxvi).

[Perempuan Bugis Makassar menempati posisi yang lebih terhormat daripada yang disangkakan, mereka tidak mengalami tindakan kekerasan, pelanggaran hak pribadi atau dipekerjakan paksa sehingga membatasi aktifitas/kesuburan mereka, dibanding yang dialami kaumnya di belahan dunia lain].

Tak hanya dihargai pendapatnya, terkadang beberapa perempuan Bugis terpilih menjadi penguasa di kerajaannya masing-masing. Kesetaraan hak politik perempuan ini diterima secara sadar dan bertanggung-jawab hampir di semua wilayah Bugis.

Selain Wa Tenri Olle, kronik raja-raja Bugis mencatat beberapa perempuan Bugis yang pernah memerintah di masing-masing wilayah. Di antaranya adalah We Tenri Rawe (Raja/Pajunge ri Luwu, abad 14), Adatuang We Abeng (1634, Ratu Sidenreng), Datu Pattiro We Tenrisoloreng (1640-Bone), We Batari Toja Daeng Tallang (1724-Bone), Adatuang Adi We Rakkia Karaeng Kanjenne (1700-an, Sidenreng), Soledatu We Ada (Ratu Soppeng, istri Arung Palakka, 1670), We Maniratu Arung Datak (1840-Bone), Besse Kajuara (1860-Bone), Andi Ninong dan Petta Ballasari (Ranreng Matoa Wajo, abad 20), Andi Depu, Datu Balanipa Mandar, Andi Pancaetana (1915, penguasa Enrekang).

Ada dua nama yang kemudian tercatat sebagai perempuan yang gencar melakukan perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda di masanya. Dua perempuan itu adalah Besse Kajuara We Tenriawaru dan We Maniratu Arung Datak.

Senyap di Lintas Sejarah
Siti Aisyah We Tenri Olle memang bukanlah seorang selebritas di lintas sejarah Indonesia. Namanya hanya dikutip sesekali, terutama bagi yang hendak meneliti mengenai sejarah penulisan La Galigo. Kisah hidupnya senyap tanpa banyak mengundang kekaguman dalam bentuk tulisan-tulisan yang tersebar di buku sejarah. Bahkan, namanya pun tak begitu dikenal di masyarakat Bugis saat ini, yang lebih banyak didominasi oleh nama-nama pahlawan perang macam Sultan Hasanuddin atau Arung Palakka.

Di daerahnya, di Pancana Tanete ri Lau, Kabupaten Barru kini, nama Wa Tenri Olle hanya dikenal dari sebentuk bangunan makam megah berwarna putih berbentuk kubah berciri arsitektur Eropa. Tak banyak yang tahu detail kisah hidupnya selain bahwa perempuan cerdas ini pernah menjadi Penguasa Tanete di akhir abad 19.

Namanya jauh dari sentuhan literatur. Bahkan, dalam penelusuran mesin pencari di internet, hanya ditemukan 167 tautan untuk kata kunci “We Tenri Olle Tanete”, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan RA Kartini yang memuat 1.080.000 tautan dan Dewi Sartika dengan 2.100.000 tautan. Ironisnya, tak ada yang bisa menjejak tahun kelahiran perempuan besar ini. 

Padahal, seperti telah diterangkan di atas, kontribusi aktif We Tenri Olle memajukan pendidikan jauh lebih mula dan lebih luas daripada dua orang di Pulau Jawa itu. Dengan inisiatif dan dana sendiri, perempuan Bugis ini mendudukkan laki-laki dan perempuan di bangku pendidikan yang sama, menerima pengajaran yang sama. Ia memaknai emansipasi dalam bentuk hakiki tanpa merasa jengah dengan pembedaan jenis kelamin.

Perihal RA Kartini, sosoknya yang dimitoskan oleh Indonesia pada gilirannya memang disangsikan oleh banyak kalangan. Di antaranya adalah sosiolog Universitas Indonesia, Profesor Harsja Bachtiar, yang mempertanyakan pengkultusan perempuan Jawa itu dalam sejarah Indonesia. Sementara, di belahan “Indonesia” lain, ada sosok seperti We Tenri Olle yang justru lebih berhasil dan lebih bergaung ke masyarakat banyak.

Satu-satunya cacat seorang Wa Tenri Olle, jika kita menyepakati hal ini sebagai cacat sembari melenyapkan pertimbangan-pertimbangan politis-strategis masa itu, adalah sikapnya yang kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan mendapat penghargaan dari Belanda atas sikap netralnya dalam perang Belanda melawan raja-raja Bugis di Pare-Pare pada 1905.

Faktor lain yang barangkali turut membuat namanya senyap adalah tidak adanya karya tulis yang ia hasilkan sendiri.

Meski demikian, namanya tetap tak bisa digeser kala siapapun mencari jejak kepahlawanan yang pernah di lahirkan di bumi yang kini bernama Indonesia. Siti Aisyah We Tenri Olle tetaplah seorang perempuan serba bisa, penguasa Tanete lebih dari separuh abad, pemula pendirian sekolah modern di Tanete, dan penggali sastra klasik La Galigo.

Sumber:
www*.melayuonline.com
www*.id.wikipedia.org
www*.sejarah.kompasiana.com
www*.budaya-sulsel.com
www*.majalahversi.com

BIOGRAFI : SITI AISYAH WE TENRI OLLE SANG RATU CENDEKIA BARRU BAGIAN 1

SITI AISYAH WE TENRI OLLE


Di negara yang mendefinisikan pahlawan sebagai pejuang anti-Belanda, maka tidak akan ada tempat bagi anak negeri yang melakukan perjuangan di kutub berbeda. Betapapun heroik tindakan yang sudah dilakukan, tapi definisi kepahlawanan di kemudian hari membuatnya lenyap.

Siti Aisyah We Tenri Olle adalah satu diantara sekian banyak raja perempuan Bugis yang narasi tentang dirinya senyap di lintasan sejarah. Ia adalah Raja Tanete, putri kedua dari La Tunampare’ To Apatorang Arung Ujung. Masa kekuasaan We Tenri Olle terbilang cukup lama, 55 tahun, yakni sejak 1855 hingga 1910.

Di tangan We Tenri Olle inilah popularitas Tanete melesat melintasi samudera dan benua hingga ke Eropa. Ia berkontribusi dengan menerjemahkan mahakarya epos La Galigo dari bahasa Bugis Kuno ke bahasa Bugis umum. Terjemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh seorang peneliti Belanda, BF Matthes, untuk diadopsi menjadi tulisan ilmiah yang akan diceritakan kemudian.

Akan tetapi, kontribusinya tak hanya ihwal La Galigo. Ia jugalah yang pertama kali membuka sekolah untuk seluruh kalangan tanpa diskriminasi, entah itu kelas sosial maupun gender.

Masa remaja We Tenri Olle dihabiskan di istana Sultan Tanete yang saat itu diperintah oleh kakeknya dari pihak ibu: Raja Tanete La Rumpang Megga Matinroe ri Mutiara. Pada 1853, perempuan cerdas ini menemukan bintang terangnya kala berinteraksi dengan dua peneliti asal Eropa, BF Matthes dari Belanda dan Ida Pfeiffer asal Austria.

BF Matthes, yang juga mendirikan sekolah di Tanete untuk kaum laki-laki terpandang pada 1876, adalah peneliti asal Belanda yang menggali sastra klasik Bugis, I La Galigo. Sedangkan Ida Pfeiffer adalah perempuan petualang asal Austria yang sempat singgah di Kerajaan Tanete dalam perjalanannya keliling dunia. Interaksi antara Matthes, Pfeiffer dan We Tenri Olla membuka cakrawala wawasan dirinya kala muda untuk berpikiran maju melampaui zamannya.

Saat naik tahta, We Tenri Olle sejatinya harus menghadapi banyak pertentangan, bahkan dari ibundanya sendiri, Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate. Sang ibunda lebih menghendaki La Makkawaru, kakak lelaki sulung Tenri Olle, untuk naik tahta. Tetapi, intervensi kakeknya, La Rumpang, ayah Collipujie yang juga Raja Tanete kala itu, membuat penentangan ibundanya mereda. Apalagi, perilaku keseharian La Makkawaru yang disebutkan gemar berjudi dan meminum minuman keras membuatnya tersingkir dari tahta kekuasaan Tanete. Perilaku demikian bertolak belakang dengan Tenri Olle yang terkenal cerdas, terpelajar, serta meminati sastra Bugis dan Islam.

We Tenri Olle menikah dengan Arung Bakka Soppeng, bernama La Sandji Unru, dan melahirkan tiga putri: We Pancaiktana Bunga Walie, I Pateka Tana, I Hawang, dan seorang putra, La Sangaji Unru, yang kelak meneruskan tahta ayahandanya sebagai Raja Bakka di Soppeng. Kedekatan antar raja-raja di daerah Bugis memungkinkan mereka saling kawin untuk mempertahankan kekerabatan dan stabilitas wilayah.

Kerajaan Tanete yang dipimpin oleh We Tenri Olle merupakan kerajaan otonom kecil. Luasnya 61.180 hektar dengan jumlah penduduk, pada saat itu, 13.362 jiwa. Kerajaan kecil ini dipersatukan dari empat wilayah: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang.

Sebagaimana daerah lain di Sulawesi Selatan, mata pencaharian penduduk Tanete adalah bertani dan nelayan. Saat ini, di zaman modern, bekas wilayah Kerajaan Tanete dimasukkan sebagai salah satu wilayah administratif kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Saat memerintah, We Tenri Olle berusaha mempertahankan pola patron-klien dengan penjajah Belanda untuk menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat Tanete. Meski menyadari betapa terhinanya hidup dalam kungkungan penjajahan formal, namun Ratu Tanete ini merasa kestabilan kerajaan jauh lebih dibutuhkan. Tak ada guna mengobarkan perlawanan bersenjata. Apalagi, kokohnya kekuatan militer Belanda saat itu tak memungkinkan untuk ditaklukkan. Ia merasakan betapa sulitnya Tanete ketika rajanya, La Patau, ditangkap dan diasingkan oleh Belanda karena perlawanan fisik yang La Patau gencarkan pada 1840.

Sebagaimana kakeknya, La Rumpang, We Tenri Olle lebih memilih untuk bersikap kooperatif dengan Belanda seraya berusaha mengambil banyak manfaat dari hubungan baik itu untuk berkonsentrasi pada kesejahteraan, pendidikan, dan pelestarian kebudayaan Bugis. Sikap politik yang diambilnya inilah yang kelak merugikan reputasinya.

Tak heran, barangkali, kronik hidup penguasa Tanete yang juga peminat sastra dan pemerhati pendidikan ini tak selengkap kronik penguasa lokal yang lain. Setidaknya, dalam penelusuran di berbagai literatur, tahun kelahiran perempuan cerdas asal Tanete ini tidak pernah disebutkan. Keterangan hanya ada pada tahun wafatnya, yakni 1919, di desa Pancana Tanete ri Lau, yang juga kampung kelahirannya.

Kecerdasan We Tenri Olle ada pada kepiawaiannya melakukan reformasi pemerintahan. Saat ia naik tahta, keadaan Tanete penuh dengan konflik vertikal antar penguasa-penguasa lokal di bawah kekuasaannya. Terkadang, pemimpin bawahan (matoa dan arung) melakukan pembangkangan atas perintah pemimpin atasnya (datu). Ketika We Tenri Olle menjadi kepala negara, Kerajaan Tanete terdiri dari tiga belas banua daerah persekutuan hukum (distrik), yang masing-masing berdiri sendiri di bawah pemerintahan seorang kepala pemerintah, dan beberapa wilayah (palili) atau daerah vasal.

Untuk menjaga kewibawaan dan efektifitas pemerintahan, We Tenri Olle kemudian melakukan perampingan pemerintahan dengan menghapus beberapa struktur lokal dan hanya menyisakan empat palili, yaitu: Tanete ri Tennga, Tanete ri Lauq, Tanete ri Aja, dan Gattarang.

We Tenri Olle memerintah kedatuan Tanete dengan kondisi politik dan ekonomi yang stabil selama lebih dari separuh abad, 55 tahun. Mungkin, beliaulah pemimpin kerajaan yang paling lama memerintah di kawasan yang kini disebut Indonesia. Masa pemerintahannya ini dimanfaatkan dengan baik oleh We Tenri Olle untuk berkonsentrasi pada dua hal yang sangat menarik minatnya: pendidikan dan kesusastraan, di saat perlawanan raja-raja Bugis meriuh pada 1905.

Menemukan Kembali Epos Lagaligo
Lamanya masa pemerintahan We Tenri Olle memungkinkan dirinya untuk berbuat lebih banyak untuk bangsanya, terutama dalam pendidikan dan penggalian sastra klasik La Galigo. Dengan diinisiasi oleh BF Matthes, peneliti Belanda yang diutus oleh Nederlandsch Bijbelgenootschaap, sebuah lembaga peneliti kitab-kitab kuno, dan Collipujie, sang ibunda, ia kemudian mengumpulkan manuskrip-manuskrip La Galigo yang terserak dalam bentuk daun-daun lontar dan dikeramatkan oleh banyak kalangan Bugis.

Kekeramatannya dipicu oleh anggapan masyarakat Bugis saat itu bahwa cerita La Galigo bukan saja hanya sekedar epos, tetapi juga merupakan petuah leluhur (to Riolo) yang mengandung samudera hikmah kehidupan dan karenanya layak dikultuskan. Belum lagi ketinggian bahasa perumpamaan yang tersirat di antara larik-larik aksara Bugis Kuno yang hanya segelintir orang mampu menggali maknanya.

Di banyak tempat, manuskrip yang juga biasa disebut lontarak ini disimpan secara khusus, yakni di dalam kain putih dan diberi dupa-dupa. Dibutuhkan upacara ritual yang sakral untuk membukanya, dengan dipimpin oleh dukun atau seorang Bissu, manusia transgender yang dipercaya memiliki kemampuan magis dalam berhubungan dengan dewata. Selain itu, tak banyak orang Bugis yang mampu memahami bahasa asli La Galigo, yang merupakan bahasa Bugis kuno.

Kemampuan We Tenri Olla membaca dan memahami bahasa Bugis Kuno dalam bait-bait sajak epos La Galigo, yang tersusun dalam 300.000 larik cerita berangkai, membuat pekerjaan BF Matthes menjadi lebih mudah. Dibantu oleh dua perempuan ibu dan anak ini, BF Matthes kemudian menerbitkan transliterasi La Galigo dalam aksara Bugis dan terjemahan bahasa Belandanya dalam buku Boeginesche Chrestomathie Jilid II tahun 1872. Karya terjemahan ini kemudian disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dan menjadi rujukan penelitian selanjutnya mengenai wiracarita terpanjang di dunia itu.

Menurut BF Matthes, peran We Tenri Olla dan ibunya, Collipujie, sangat signifikan dalam memperkenalkan epos La Galigo ini ke dunia luar. Tanpa peran keduanya, mungkin epos ini akan lama terpendam di dalam bilik-bilik senyap istana-istana raja-raja Bugis hingga keruntuhannya.

Meskipun demikian, upaya keras mereka hanya mampu membukukan sepertiga dari keseluruhan epos La Galigo. Kerja keras pengumpulan keseluruhan manuskrip ini masih berlangsung hingga kini. Ia berkembang berkat rintisan tiga orang yang layak dijadikan pahlawan pelestari karya sastra bugis ini.

Sumber:
www*.melayuonline.com
www*.id.wikipedia.org
www*.sejarah.kompasiana.com
www*.budaya-sulsel.com
www*.majalahversi.com

BIOGRAFI : IDHAN DHANVANTARI LUBIS

Idhan Dhanvantari Lubis 

Idhan Dhanvantari Lubis adalah juga legenda serta tokoh pendakian yang mana kala itu meninggal di Puncak Semeru bersama Soe Hoek Gie pada tanggal 16 Desember 1969. Selama ini, memang tentang dia jarang terlihat di bicarakan dikalangan pendaki gunung, karena ketokohan Soe Hoek Gie yang terlanjur sangat melegenda. Tetapi syukurlah, Idhan Lubis tak terlupakan begitu saja.

Idhan Lubis anak kedua dari pasangan Bachtar Lubis dan Kusrahaeni, dengan kakak kandung Idhat Lubis dan dua orang adik Piet Bachtari Lubis dan Poeng Wiyata Indra Lubis dan juga keponakan dari seorang jurnalis dan pengarang terkenal di Indonesia yaitu Mochtar Lubis.


Sebuah kisah dari legenda Mahabarata, yaitu saat perang Bharatayuda, dimana Pandawa Lima pulang ke Surga melalui Arcopodo sebuah gerbang yang dikawal Dewa Kembar, pintu masuk surga dilangit Mahameru. Arcopodo sendiri adalah nama salah satu lokasi yang berada di gunung Semeru, lokasi untuk menuju puncak Mahameru. Idhan Lubis sangat paham benar dengan legenda Mahabarata itu. Oleh karena itu Almarhum mempunyai target untuk mendaki gunung tersebut. Di pertengahan tahun 1968 Idhan bersahabat dengan Herman O. Lantang seorang anggota Mapala Universitas Indonesia. Dengan Herman itulah Idhan diajak untuk mendaki gunung Semeru bersama - sama dengan anggota Mapala UI. Saat pendakian itu Idhan baru berusia 20 tahun dan masih menjadi mahasiswa di Universitas Tarumanegara.


Idhan Dhanvantari Lubis, pemuda tampan yang tenang dan serius itu seakan - akan telah mempunyai firasat akan ajalnya yang sudah dekat. Sebelum melakukan perjalanan mendaki puncak gunung Semeru, almarhum Idhan Lubis pergi ke Bandung. Selain mengucapkan ” Selamat Lebaran ”, Idhan Lubis juga minta diri, menyampaikan salam ’berpamitan’ kepada semua keluarganya di Bandung itu. Hal semacam itu tak pernah dilakukan Idhan sebelumnya, bahkan orangtua Idhan biasanya jarang diberitahukan bila akan mendaki gunung. Hari - hari menjelang keberangkatan ke Jawa Timur tanggal 13 Desember, jalan telah dipenuhi ’isyarat - isyarat’ Idhan tentang Puncak Arcopodo Semeru tersebut. Sampai - sampai dalam tidur pun, Idhan mengigau tentang gunung Semeru. Idhan menyebut ’Rocopodo’ suatu nama tempat di puncak gunung Semeru itu dalam mimpinya. Hal ini didengar oleh saudaranya suatu malam dengan keheranan. Sehari - hari, Idhan tak hentinya menulis - nulis dan mencoret nama ’Mahameru’, ’puncak Semeru’, dan sebagainya dimana saja ada kesempatan.

Pada suatu petang tanggal 8 Desember 1969 di rumahnya di Polonia, Idhan Lubis menulis sebuah sajak yang ditujukan kepada sahabatnya Herman O Lantang. Puisi Idhan Lubis yang ditulisnya delapan hari sebelum meninggal dunia itu berjudul ”Djika Berpisah”, yang selengkapnya sbb:

Pro: Herman O. Lantang

Djika Berpisah

Di sini kita bertemu, satu irama
di antara wadjah2 perkasa...
tergores duka dan nestapa,
tiada putus asa
tudjuan esa puntjak mendjulang di sana
Bersama djatuh dan bangun
di bawah langit biru pusaka...
antara dua samudra...
Bersama harapanku djuga kau
satu nafas
kita jang terhempas
pengabdian... dan... kebebasan...
Bila kita berpisah
kemana kau aku tak tahu sahabat
atau turuti kelok2 djalan
atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan
hanja bila kau lupa
ingat...
Pernah aku dan kau
sama - sama daki gunung - gunung tinggi
hampir kaki kita patah - patah
nafas kita putus - putus
tudjuan esa, tudjuan satu:
Pengabdian dan pengabdian kepada....
...Jang Maha Kuasa ...

Dari : Idhan Lubis
Polonia, 8 Desember 1969.

” Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad kedua tersebut sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil Gunung  Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih. ”

INFO INSPIRATIF : NAMA-NAMA YANG HARAM DAN MAKRUH DALAM ISLAM

NAMA-NAMA YANG HARAM DAN MAKRUH DALAM ISLAM


SHAKESPEARE berujar, ‘Apalah arti sebuah nama?’. Tapi bagi umat Islam, tidak demikian adanya. Nama adalah sesuatu yang berharga. Nama menjadi sedemikian penting karena sebuah nama dianggap juga sebagai sebuah doa kepada Allah Swt.

Dalam memberikan nama kepada anak, mungkin di antara para orang tua belum mengetahui kaidah Islam mengenai nama-nama yang boleh, makruh, dan bahkan diharamkan. Untuk menghindari dan ataupun memperbaiki kesalahan dalam memberikan nama pada anak, berikut adalah ulasannya.
  • Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, misalnya: Abdur Rasul (hambanya Rasul), Abdun Nabi (hambanya Nabi), dsb. Sedangkan selain nama Nabi Saw., misal: Abdul ‘Uzza (hambanya Al-‘Uzza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (hambanya Matahari) dsb.
  • Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaraka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dsb.
  • Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
  • Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Swt., misal: Al-Lat dan Al-‘Uzza..
  • Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dan daerah lainnya.
  • Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;“Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (raja diraja),” (HR. Bukhori & Muslim).
  • Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.



  • Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
  • Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
  • Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’aun, misal: Fir’aun, Qarun, dan Haman.
  • Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifatsifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
  • Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama”, dan lafadz “Islam”, misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
  • Dimakruhkan memberi nama ganda, misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id, dll.
  • Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.



Jalan keluar dari kedua hal ini adalah mengubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/departemen yang mengurusi masalah ini.

Sesungguhnya Rasulullah Saw. mengubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah SWT kepada nama-nama Islami, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik,” (HR. AT-Tirmidzi).

Demikianlah Nabi Saw. mengubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau Saw. mengubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti mengubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll. [Sumber: Tasmiyah Al-Maulud, karya: Asy-Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid]

Wallahu A’lam.